SPBU Kandoli di Tababo Lakukan Pelanggaran Hukum, Diduga Jadi 'Markas' Mafia BBM dan Jual Solar Subsidi Rp8,300 Per Liter, Kapolres Mitra Kok Diam

SPBU Kandoli di Tababo Lakukan Pelanggaran Hukum, Diduga Jadi 'Markas' Mafia BBM dan Jual Solar Subsidi Rp8,300 Per Liter, Kapolres Mitra Kok Diam

Vebry Tri Haryadi dan AKBP Eko Sisbiantoro


MANADO, KORANMANADO.CO.ID-
Penindakan hukum terhadap mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di Kabupaten Minahasa Tenggara mendapat sorotan tajam dari praktisi hukum Vebry Tri Haryadi SH. Pasalnya hingga saat ini, perbuatan yang dianggap merugikan masyarakat itu tidak kunjung disentuh.

Mirisnya lagi, Kapolres AKBP Eko Sisbiantoro yang sebelumnya mengatakan akan memerintahkan Kasat Reskrim Iptu Kieffer Dananjaya Malonda untuk mengecek informasi sekaligus keluhan masyarakat tentang bergliryanya para mafia BBM di Mitra, kini memilih menutup mulutnya rapat-rapat.
MOBIL terduga mafia BBM kepergok menghisap solar subsidi di SPBU Desa Tababo Kecamatan Belang Kabupaten Mitra. (foto.istimewa)

Menurut Vebry, sikap diam Kapolres Mitra itu memiliki tanda tanya besar. Ia pun menduga, aparat penegak hukum sengaja menutup mata terkait persoalan ini.

Itu karena, pada pertengahan Oktober 2023, masyarakat telah mengeluhkan mengenai penjualan harga BBM bersubsidi jenis solar di SPBU Desa Tababo Kecamatan Belang, yang seharusnya Rp 6,800 per liter, tapi dijual dengan harga Rp 8,300 per liter.

"Anehnya lagi, SPBU itu diduga menjadi tempat mangkalnya para mafia BBM. Tindakan ini jelas merupakan sebuah perbuatan pidana. Tidak bisa SPBU menjual solar bersubsidi melebihi harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Apalagi menjual solar subsidi ke perusahaan-perusahaan. Tapi herannya, tidak ada langkah penindakan dari aparat penegak hukum" kata Vebry, Jumat (10/11/2023).

Untuk itu, ia meminta Kapolda Sulut Irjen Pol Drs. Setyo Budiyanto, SH, MH menurunkan tim terkait persoalan ini.

Sebagaimana informasi yang diterima Redaksi KoranManado.co.id, perubahan semena-mena harga solar bersubsidi, diduga sudah lama dipraktikkan oknum operator SPBU Tababo.

Bahkan, sebelum mematok harga Rp8,300 per liter, oknum operator di SPBU Tababo milik salah satu mantan Wakil Bupati di Sulawesi Utara berinisial RK alias Kandoli ini awalnya, menjual solar bersubsidi dengan harga Rp7.800 per liter, kemudian naik menjadi Rp8.000, lalu Rp8.250, hingga Rp 8.300 per liter.

"Mau tidak mau kami harus beli untuk kebutuhan kami sebagai nelayan," kata salah satu masyarakat yang meminta namanya untuk tidak dipublikasi.

Salah satu mafia BBM yang kerap menghabiskan solar bersubsidi di SPBU Tababo kata sumber, yakni lelaki  berinisial HM alias Harry alias Ai.

Lelaki Ai sendiri merupakan pengusaha BBM di Kota Bitung. Di Mitra, Ai dikabarkan memiliki gudang penimbunan yang berlokasi di perkebunan Desa Liwutung Kecamatan Pasan.

Selain disedot mafia BBM Ai, solar subsidi di SPBU Tababo juga kerap tidak terbagi ke masyarakat, karena keluarga pemilik SPBU juga diduga ikut menyedot solar subsidi.

"Selain pembeli yang menggunakan jerigen, pemilik SPBU juga menyedot sendiri solar subsidi dan mengangkutnya dengan mobil pick up. Mobil itu, mengangkut tangki besi modifikasi. Solar yang dihisap dijual lagi ke penampung besar," tandas sumber. (jenglen)

1 Komentar

  • Baju coklat so kenyang...so trima doi setoran

Add Comment